Ragam

Menelisik Perjalanan Panjang Penanganan Kasus Korupsi

Tradisi atau Sistem

Tumpang Tindih

Gampang-gampang susah atau susah-susah gampang.  Karena Korupsi menjadi polemik dan bencana dan ruang kehidupan bangsa ini. Menghadapi polemik ini, media kontrol sosial bertugas memberi wawasan segar dan pencerahan kreatif kepada publik luas, agar menghindar dari jerat korupsi. Virus korupsi seolah menggerakkan energi iblis untuk melahirkan setan-setan baru yang menghancurkan negara dan tatanan kehidupan. Masa depan bangsa ini dihimpit suramnya badai korupsi. Di tengah badai, sastra bertugas menangkis korupsi dengan menginspirasi pembaca sebanyak-banyaknya agar menghindar dari terjangan korupsi. Lalu, kenapa didalam penanganannya selalu setengah hati? Atau ada jebakan nilai dolar? Atau mungkin biar nggak ribet nilai rupiah yang sangat fantastis? Entahlah….

Hingga detik ini mungkin sudah jutaan ribuan kasus korupsi yang tidak tersentuh, dari yang bertaraf kecil maupun besar, baik didaerah maupun di pusat. Entah kenapa dan bagaimana ini bisa tidak terproses oleh hukum. Lalu siapa sebenarnya yang paling berwenang menangani kasus-kasus korupsi itu? Kejaksaankah, Polisikah, KPK atau ada instansi lain yang memang nggak mau kalah ikutan ngurusin kasus korupsi itu. katanya sih….banyak duitnya…..

Kasus kelas kakap yang menggemparkan bumi pertiwi pun kini sunyi senyap, apalagi kasus-kasus kelas teri. Bisa jadi hilang tertiup angin entah kemana. Bukan asal nge’cap saja, memang paling mudah adalah berkomentar, asal bicara, asal nguap dan asal bunyi. Tapi realita yang terjadi benar adanya, semua kasus-kasus korupsi dari bupati, gubernur sampai yang tertinggi di negara ini sudah tidur terlelap. Justeru yang ada kasus-kasus baru yang muncul. Apakah ini sudah menjadi tradisi, apa memang secara tidak sengaja…..

Gedhang awoh pakel alias ngomonge gampang nglakonine angel (memang paling mudah berbicara, tapi ketika menjalankan tugasnya ya tidaklah mudah, jawa red). Semuanya seperti sebuah cerita film, masih mending sinetron yang terus ada lanjutannya. Kalau bahasa pinggirannya ‘hangat-hangat tahi ayam’. Rakyat saat ini sudah tidak tuli, buta dan bodoh. Mereka sudah sangat jeli dan teliti, “ngapain ngurusin korupsi, orang yang bilang jangan korupsi itu ternyata malah biangnya korupsi” celetuk salahseorang warga masyarakat. Memang nggak salah kata almarhum Gusdur, “Gitu Aja Kok Repot”. Mau ngusut kasus duitnya ada, dalam proses pun ada duitnya lha kok nggak kelar-kelar. Proseduralnya semua sudah berjalan, tapi personelnya ‘mungkin’ agak ndablek alias mbalelo. Perintah ke kanan malah ke kiri, alasan mereka mampir dulua ach….entertaint dulu biar nggak stress atau juga cari inspirasi.

Inilah polah tingkah para personal abdi negara yang ngurusin hukum dan keadilan, parahnya lagi katanya mau membela yang benar. Tapi, begitu ketemu sama targetnya justeru terbalik membela yang bayar……semua keblabalasan tanpa arah. Asal kenyang, dapat duit, nggak peduli dan masa bodo dengan kasusnya. Sehingga yang terjadi ya tidak jelas semuanya….

Apalagi sekarang ini sedang proses pemilihan calon Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi. Sehingga secara tidak langsung dunia persilatan ‘Sang Pendekar’ pemberantasan korupsi pun semakin sengit. Hanya saja, kenapa begitu lamanya memilih orang yang mampu dan bisa mempimpin dalam membrangus para koruptor itu?

Birokrasi dan sistem pemilihan pun nggak main-main, selektif dan profesional. Sebagai calon “Pendekar” Anti Korupsi harus mampu dan bisa segala-galanya. Paling utama ya harus tajir (kaya, betawi red) habis. Pasalnya, jika tidak kaya maka akan menimbulkan masalah baru bagi ‘ Sang Pendekar’ tersebut. yang jelas itu semua sudah ada tupoksinya masing-masing, semuanya adalah amanah dari rakyat ya harus dijalankan sesuai dengan hati nurani dan moral yang benar-benar bersih.

Kini yang jadi pertanyaan adalah, semua kasus yang sudah menumpuk baik di Kejaksaan Agung, Kepolisian dan KPK belum semuanya tereksekusi. Kenapa? Kala itu, Johan Budi selaku juru bicara KPK mengatakan, “Kebenaran masyarakat bukanlah kebenaran absolut. Ada pemilahan-pemilahan yang mana masuk dalam kategori korupsi,” itu yang dikatakan Johan Budi sebelum Antasari Azhar tertangkap.

Belum lagi laporan masyarakat daerah diseluruh Indonesia, hingga saat ini penanganan kasus korupsi tidak pernah sampai tuntas penanganannya. Meski laporan diterima, namun tidak ada tindaklanjut. “Kami sudah jauh-jauh melaporkan adanya korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat didaerah kami, namun tidak ada tanda-tanda penyelidikan apalagi pemeriksaan. Kami coba konfirmasi, jawabannya masih dalam proses. Sampai kapan prosesnya, beberapa kasus sudah kami laporkan sejak tahun 2008, hingga kini tetap saja para oknum masih bebas beraktifitas. Bahkan mereka seperti tak ada dosa, “ ujar salahsatu warga masyarakat dari wilayah Kalimantan dengan nada kesal.

Berdasarkan hasil Investigasi Tim Khusus Investigator Mapikor Indonesia ke daerah beberapa minggu lalu, memang benar apa yang disampaikan oleh masyarakat tentang adanya korupsi didaerah yang sudah dilaporkan ke Pusat, namun tidak ada respon. Bahkan semakin hari, kasus-kasus korupsi menumpuk dan tidak ada kejelasan. Sehingga dalam pemikiran masyarakat awam jadi tumpang tindih. Kasus satu belum diselesaikan, dimunculkan lagi 2 dan seterusnya. Apakah ini memang tradisi atau sistem yang memang sudah dibentuk. Lalu sampai kapan penyelesaian dan penanganan kasus korupsi di bumi pertiwi ini. Memang tidak mudah memberantas dan membabat habis korupsi itu, tapi paling tidak, jika didalam menjalankan tugasnya secara serius minimal mengurangi volume kasus-kasus yang sudah tidak tahu lagi berapa jumlahnya.

Melawan korupsi berarti menyiapkan mental dan diri menggempur kemapanan birokrasi. Kritik sosial semacam ini, akan meletup dalam diri sastrawan yang tak mau dikekang kejumudan. Masyarakat yang menghamba pada kemapanan birokrasi hanya akan menghasilkan dengan nafas pendek. Kampanye antikorupsi hanya sebatas wacana saja, tapi tidak konsisten dalam pikiran dan tindakan. Kampanye antikorupsi yang meletup akan menjadi perjuangan kreatif penuh risiko, namun menjadi panggilan hidup dan refleksi penting. Sosialisasi, aksi dan gerakan untuk memerangi korupsi merupakan jalan kreatif untuk mengutuk kebusukan birokrasi dan mengimpikan masa depan cerah bangsa ini.  Dan di ranah hukum, para koruptor yang merugikan negara dalam jumlah besar, sekan bebas mempermainkan, sedangkan rakyat kecil dengan balutan kemiskinan menjadi pesakitan ketika tertimpa kasus hukum. Pedih dan miris jika kita melihat dan mendengar jeritan saudara kita yang tertimpa permasalahan tersebut.

Sebagai media sarana komunikasi masyarakat, didalam menyampaikan informasi bukan rekayasa maupun gosip. Fakta dan kenyataan yang ada dilapangan, bahwa masyarakat daerah yang benar-benar tertindas dan pembodohan. Tak sekadar menguap dan mengumbar berita tanpa bukti dan data, realita dan faktalah yang berbicara.

Kampanye antikorupsi dan kritik sosial lain yang menggema hampir setiap waktu, diharapkan menjadi inspirasi terbukanya ruang kesadaran elite politik negeri ini untuk memperbaiki kinerja dan mengayomi rakyat. Dengan demikian, cita-cita negara kesejahteraan (welfare state) akan tergapai. Dan perlu diingat, bahwa korupsi adalah belenggu cita-cita anak bangsa. Harapan masyarakat dari Sabang sampai Merauke hanyalah keterbukaan dan transparansi didalam menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat, sebagai pamong praja ya mestinya mengayomi dan melindungi rakyatnya. Bukan sebaliknya, dan sebagai wakil rakyat ya harus sadar dan tahu diri, mereka harus membela dan berkorban untuk rakyat. Ingat Abdi Negara yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini yang memberikan gaji itu RAKYAT. Jadi jangan merasa sudah berkuasa dan punya kebijakan. Masyarakat tidak menuntut banyak, bagi para penegak hukum yang menangani kasus-kasus korupsi kiranya segera menjalankan tugas dengan baik dan maksimal. Tanpa pandang bulu dan tebang pilih. Karena bukti-bukti dan data sudah ada dan lengkap semua.

Memang tidak semudah berbicara, namun jika semuanya itu dijalankan dengan hati yang tulus dan ikhlas, serta dengan kerja tim yang solid semuanya dipastikan berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Semoga! *tim

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: