Bedah Kasus

Aset PT Sarana Perdana Indoglobal Jadi Bancakan “Oknum Kurator” dan “Oknum Polisi Polda Metro Jaya”

Kurator Denny Ajani & Rekan

Kasusnya masih  berjalan namun sarat dugaan korupsi dan penggelapan asset. Oknum Kurator SPI patut diduga keras “boneka” Oknum Polda Metro dan bertindak “Double Agent” lantaran tidak ada transparansi yang sampai ke publik terkait aset PT SPI kepada ribuan nasabahnya. Bahkan hingga sekarang “Tak Ada Tindakan Hukum” terhadap Komisaris Utama PT SPI, Leonardo Patar Muda Sinaga. Ini data kronologisnya, mudah-mudahan menjadi perhatian Satgas Mafia Hukum untuk ditindaklanjuti.

Pada awal tahun 2005 PT Sarana Perdana Indoglobal (PT SPI) berdiri dan bergerak
dibidang usaha investasi.  Sampai 23 Maret 2007 telah terdapat 3.401 (tiga ribu empat ratus satu ) nasabah dengan jumlah uang yang diinvestasikan sejumlah Rp.1,469,375,000,000,- ( Satu triliun empat ratus enam puluh sembilan milyar tiga ratus tujuh puluh lima juta rupiah ) dan USD $ 11,495,000.00 ( Sebelas juta empat ratus sembilan puluh lima ribu US dollar ). Kondisi pada tanggal 23 Maret 2007, Komisaris Utama PT SPI Leonardo Patar Muda Sinaga telah melarikan diri bersama seluruh sanak saudaranya sehingga mengakibatkan PT SPI gagal bayar (default) sehingga para nasabah /kreditur panik dan melakukan tindakan hukumantara lain Melaporkan Komisaris Utama PT SPI ke Polda Metro Jaya  dan Menggugat Pailit  PT SPI melalui PN Niaga Jakarta Pusat oleh Kreditur Surabaya. Semua asset-asset PT SPI yang diketahui oleh kreditur adalah Hotel Golden Time, Podomoro Sunter Jakarta Utara. 2 (dua)  Ruko di Medan, 4 (empat) Ruko di Batu Ceper Jakarta, 3 (tiga)  Ruko di Bandung, 2 (dua)  Ruko di Jember, 3 (tiga)  Ruko di Solo, 3 (tiga) Ruko di Semarang & mess, 3 (tiga) Ruko di Probolinggo, Mobil –mobil inventaris  PT SPI sebanyak 70 buah, 2 (dua)  Apartemen Red Top Jakarta, 1 (satu) Apartemen  Sudirman Park Jakarta, 3 (tiga) Rumah  di Cibinong dan Dana serta  Asset dari  Anak Perusahaan PT SPI ( seperti PT Sarana Perdana Komoditi, PT Sarana Perdana Cipta Karya, PT Sarana Perdana Berjangka, PT Sarana Karya Mitra, PT Sarana Travelindo, PT Mahkota Graleri Muda, PT Sarana Secure Wiratama, PT Patalian Water Securindo). Sementara PT PATALIAN WATER SECURINDO; anak perusahaan PT SPI (dalam pailit) :
a. MKBD dari PT PWS senilai Rp.25,692,468,895,-
b. Dana yang dipindahkan ke TRUST Sekuritas +/- Rp.40 Milyar akhir Maret ’07 kemudian rekening ditutup oleh Sugeng Purwahandaya(Direktur PT PWS)  atas BCA A/C 749.007.567.9  dan 749.007.779.9 dan tidak dilaporkan.
*Tanggal 22 Maret 2007 :Rp.  5,000,000,000,-
*Tanggal 27 Maret 2007 :Rp.16,000,000,000,-
*Tanggal 29 Maret 2007 :Rp.  7,000,000,000,-
*Tanggal 30 Maret 2007 :Rp. 8,000,000,000,- & Rp.4,000,000,000,-
c. Dana yang diserahkan ke Penyidik Polda sebesar Rp.8,296,051,733.13.
d. Memiliki 405,764,500 lbr saham CNKO. Sugeng Purwahandaya melakukan pemindahan/penjualan saham CNKO: Uang hasil penjualan saham CNKO berdasarkan dari berkurangnya jumlah saham yang tercatat di Ficomindo Buana Registrar /Biro Administrasi Efek sebanyak 39,292,000 lbr (Tiga puluh sembilan juta dua ratus sembillan puluh dua ribu) tertanggal 12 April 2007. Uang hasil penjualan saham CNKO berdasarkan dari berkurangnya jumlah saham yang tercatat di Ficomindo Buana Registrar /Biro Administrasi Efek sebanyak 61,472,500(Enam puluh satu juta empat ratus tujuh puluh dua ribu lima ratus)lembar tertanggal 20 April 2007.
Uang hasil penjualan saham CNKO berdasarkan dari berkurangnya jumlah saham yang tercatat di Ficomindo Buana Registrar /Biro Administrasi Efek sebanyak 72,750,000 (Tujuh  puluh dua juta tujuh ratus lima puluh Ribu) lbr tertanggal 1 Agustus 2007.
Uang hasil penjualan saham CNKO berdasarkan dari berkurangnya jumlah saham yang tercatat di Ficomindo Buana Registrar /Biro Administrasi Efek sebanyak 13,050,000 lbr (Tiga belas juta limapuluh  ribu) lembar tertanggal  9 Agustus’07. Uang hasil penjualan saham CNKO berdasarkan dari transfer dana dari TRUST sekuritas & YULIE  Sekurindo kepada Sugeng Purwahandaya sebesar Rp.2,200,000,000,-dan Rp.700,000,000,- tertanggal 30 Juli 2007. Uang hasil penjualan saham CNKO berdasarkan dari transfer dana dari YULIE Sekurindo ke rekening Sugeng Purwahandaya sebanyak Rp. 800,000,000,-(Delapan ratus enam puluh juta Rp) tertanggal 16 Agust’ 07. Uang hasil penjualan saham CNKO berdasarkan dari transfer dana dari TRUST Sekuritas ke rekening Sugeng Purwahandaya sebanyak Rp. 800,000,000,-(Delapan ratus enam puluh juta Rp) tertanggal 07 Sept 2007. Uang hasil penjualan saham CNKO berdasarkan dari transfer dana dari YULIE Sekurindo ke rekening Sugeng Purwahandaya sebanyak Rp. 1,900,000,000,-(Satu milyar sembilan ratus juta Rp)tertanggal 19 September’07. Uang hasil penjualan saham CNKO berdasarkan dari transfer dana dari TRUST Sekuritas ke rekening Sugeng Purwahandaya sebanyak Rp. 2,000,000,000,-(Dua milyar Rp) tertanggal 28 September 2007. Uang hasil penjualan saham CNKO berdasarkan dari transfer dana dari TRUST Sekuritas ke rekening Sugeng Purwahandaya sebanyak Rp. 9,500,000,000,-(Sembilan milyar lima ratus juta Rp) tertanggal  04 Oktober 2007. Dari Managemen Gedung Gajah Mada Tower telah menyerahkan Uang Jaminan Sewa (Deposit) PT SPI berdasarkan Perjanjian sewa menyewa:026/JOT-GMT/PSM-SPI/LD/N/III/06 tanggal 27 Maret 2006 kepada pihak Kepolisian untuk disita sebagai barang bukti berdasarkan Surat No.Pol:B/9234/VII/2007/Ditreskrimum tanggal 18 Juli 2007,dan dibuatkan Berita Acara Penyitaan Tanggal 31 Juli 2007 dengan Penyidik Kompol Sukarno. Dari Saham CNKO yang merupakan asset PWS diterima 305,000,000 lembar ,dan dari penjualan Saham CNKO telah diserahkan kepada Kurator Rp.10,000,000,000,-(Sepuluh Milyar Rupiah).
Hotel Golden Time, Sunter-Podomoro telah disita dan diberi policeline sehingga tidak dapat dimasuki, dijual apalagi diambil assetnya. Mobil-mobil inventaris PT SPI (dalam pailit) sebanyak 16 buah yang dijadikan barang bukti (diserahkan ke pengadilan).
Akan tetapi asset-asset yang diterima oknum penyidik  tersebut  diatas ternyata didapati ketidak cocokan dalam penyerahan penyidik tersebut kepada Jaksa Penuntut Umum yang dicantumkan dalam BAP penyitaan penyidik yang dikuatkan  Penetapan  PN Jakarta Pusat antara lain sebagai berikut : Uang yang diserahkan Sugeng Purwahandaya kepada Anang Susanto selaku Penyidik Polda Jaya sebanyak Rp.8,296,051,733.13 (Delapan milyar dua ratus sembilan puluh enam juta lima puluh satu ribu tujuh ratus tiga puluh tiga rupiah tiga belas sen) sesuai tanda terima tertanggal 20 April 2007,ternyata  diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum hanya sebanyak Rp.8,000,000,000,- (Delapan milyar Rp). Uang yang disita /dibekukan  diatas hanya dicantumkan no. AC-nya saja, sedangkan isinya tidak dilaporkan sehingga tidak tampak dalam laporan Kurator. Ada rekening BCA yang tidak dimasukkan kedalam penyitaan antara lain: 587.007.9577 An.Lioe Hendri Guntoro            (Rp.   950,996,518.18)  035.311.0818 An.Sarana Perdana Berjangka                                         Rp.   947,355.101.00) Dari Managemen Gedung Gajah Mada Tower telah menyerahkan Uang Jaminan Sewa(Deposit) PT SPI berdasarkan Perjanjian sewa menyewa:026/JOT-GMT/PSM-SPI/LD/N/III/06 tanggal 27 Maret 2006 kepada pihak Kepolisian untuk disita sebagai barang bukti berdasarkan Surat No.Pol:B/9234/VII/2007/Ditreskrimum tanggal 18 Juli 2007,dan dibuatkan Berita Acara PenyitaanTanggal 31 Juli 2007 dengan Penyidik Kompol Sukarno ,ternyata tidak dimasukkan dalam BAP Penyitaan oleh Penyidik. Dari penjualan Saham CNKO  telah  diserahkan ke  Kurator  uang sebanyak Rp. 10,000,000,000,- (Sepuluh milyar Rp),tetapi tanpa perincian: harga, jumlah, nilai uang yang dihasilkan serta sisa saham yang belum terjual sehingga sangat tidak sesuai  dengan 305,000,000 lembar yang disita oleh Polda Jaya. Lagipula Kurator pada rapat kreditur tanggal 14 Januari 2009 mengakui bahwa mereka hanya menerima dana tersebut dari pihak Penyidik Polda Jaya sehingga kami asumsikan bahwa semua asset ada ditangani oleh Penyidik, jadi mengapa Kurator menganggarkan biaya pengurusan saham PWS kalau mereka terima matangnya saja. Jadi bisa dikatakan semua biaya yang dianggarkan Kurator hanyalah untuk mengurangi Dana Bodel Pailit yang akan dibagikan kepada para kreditur. Ternyata setelah melalui beberapa kali lelang yang dilakukan oleh Kurator & beberapa kali digagalkan, banyak isi dari hotel tersebut yang hilang, seperti: sound system, computer, tempat tidur, furniture bahkan isi dari lift pun bisa raib. Padahal Kurator menganggarkan Biaya Pemeliharaan & Pengamanan Asset sebanyak: Rp.125,285,000,- (Seratus dua puluh lima juta dus ratus delapan puluh lima ribu Rp) &Biaya Petugas Keamanan Rp.203,050,000,-(Dua ratus tiga juta lima puluh ribu Rp). Mengapa banyak asset yang menguap?. Mobil-mobil inventaris yang dijadikan barang bukti 16 buah, dari 70 buah yang diketahui kemana & dimana sisanya serta asset mobil ini adalah asset yang mudah menyusut mengapa tidak dilelang di awal-awal kepailitan?.
Selain asset-asset yang diterima oleh penyidik Polda Jaya tsb pada point D diatas ternyata ada Yang diterima oleh penyidik Polda Jaya yang tidak dimasukkan dalam berkas i.c /dalam hal ini tidak dicantumkan dalam BAP Penyitaan Penyidik sehingga tidak dicantumkan pula dalam penetapan maupun putusan PN Jakarta Pusat. *Tim

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: